Saat ia ucapkan akad di depan wali,
Baru kusadari..
Saat itulah kujatuh cinta
Untuk pertama kali!
Mungkin terdengar ganjil pernyataan di atas. Tapi ya, aku belum jatuh cinta padanya sebelum pernikahan. Makanya lebih seringnya kusebut ini dengan “bangun cinta” daripada ‘jatuh cinta”. Karena bagiku ‘jatuh” adalah sebuah proses kebetulan dan ketidaksengajaan sesaat. Sedang “Bangun” adalah usaha yang berlandas pada visi dan kesadaran. Dan Orang-orang kuat mencintai dengan segenap kesadarannya.
Dari dulu aku memang berprinsip “Aku bisa mencintai siapapun, tapi saat ada laki-laki yang sholeh, yang bersedia bertanggungjawab menjadi imamku, aku tak boleh menolaknya”. Karena bagiku, cinta adalah kata kerja. Biarlah perasaan hati ini menjadi makmum bagi kerja-kerja cintaku.
Aku sebenarnya mengenalnya sudah begitu lama,kurang lebih selama Lima tahun karena kami berdua adalah teman satu angkatan di fakultas . Jadi kami hampir selalu bersama sampai meraih gelar . Namun sama sekali tak ada komunikasi intensif yang tak seharusnya, tak ada rasa sebelum waktunya. Walau dalam hatiku aku pernah juga berdo’a mendapat laki-laki sesholeh,secerdas dan setampan dia. Hanya bisikan hati dalam sepi. Dan Allah memang tak pernah tidur. Ternyata Allah mengabulkan do’a yang paling jujur dari hati kita.
Tidak terasa waktu berjalan cepat karena hanya keindahan-keindahan dirinya yang kutemukan. Walau kadang ada masalah, kadang ada saatnya ingin merengut,meledak, suntuk dan kehilangan arah, namun kami sadar bahwa itulah proses pembelajaran untuk mencintai sampai mati.
Teringatku kalimat buku dari Mba Asma Nadia:
“Kalau kucemburu, semoga hanya saat Tuhan juga cemburu padaMu”
Dan bila bisa kutambahkan,
“Kucinta dirimu, Karena kucinta Tuhanku”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar