Photobucket
WELCOME FRIENDS TO MY BLOGSPOT LUV U ALL

perjalanan cinta kami

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

26 Februari 2010

Air mataku mengalir lagi untuk kesekian kalinya

Tuhan beri kekuatan otak untuk melakukan kontrol dan perintah pada anggota tubuh. Tangan mengepal, kaki berjalan, bibir tersenyum, mata melirik. Tapi ia (otak, Red) tak mampu menghentikan aliran air mata yg menetes tanpa diminta…
Sekuat apapun mencoba, sekeras apapun otak memerintahkan, air mata terus menetes tak tertahan. deras dan semakin deras, ah! mengaburkan pandanganku ke monitor meski jari tangan tetap lincah menekan huruf-huruf untuk merangkai kalimat.
CENGENG!. Salah satu warisan  bunda yang aku syukuri sekaligus ku benci. Bersyukur karena tangisan mewakili rasa dan emosi, tangisan juga bukti belum membekunya sepotong hati.
Membencinya karena telah menunjukkan kelemahan dan membuka benteng pertahanan diri. Tapi apapun arti yang ia wakili, aku tetap berterima kasih untuk sedikit beban yang ia bawa pergi, menguap, lenyap, hilang, meski mungkin akan kembali seperti air mata yang akan selalu ada, abadi.

Tangisku belum jua berhenti, demi menikmati sakit dan detail kenangan yang masih menghantui. Yang seringkali kembali meski otak telah  menghalaunya pergi.
Kali ini aku mengizinkan diri untuk menuliskannya di sini, sekali ini, untuk kemudian benar-benar menjadikannya pelajaran  agar  semakin berhati-hati dan lebih mendekatkan diri pada Ilahi.


Saat kecil kita selalu berkata apa adanya, tanpa bumbu, apalagi hiasan pemanis yang tak menyehatkan
ah, terima kasih kepada cerita, tulisan, dan mereka yang telah mengajarkanku sesuatu. aku bukan pecinta seremonial, tapi di Hari Guru Nasional, hari ini, tak ada salahnya berterima kasih kepada siapapun dan apapun yang sudah berjasa dan membuat kita belajar, bahkan ketika itu menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar